Merinding! Sebelum Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen, Agus Unggah Status Soal Kematian

Posted on



Beritaterheboh.com –  Jelang ajal datang, Agus Waluyo, korban tewas kecelakaan maut menorehkan sejumlah ciutan di laman facebook pribadinya.



Tidak tanggung-tanggung, pria berusia 45 tahun itu menuliskan soal kematian di laman Facebooknya.



Status pertama diunggah pada tanggal 6 Februari 2018. Ia menciut perihal muhasabah diri.



Tidak lama kemudian, Agus mencuit status kedua pada tanggal yang sama. Kali ini Agus mulai bicara soal kematian.



Kita harus menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini sangatlah terbatas. Dibatasi oleh kematian yang kedatangannya bisa sangat tiba-tiba atas kehendak Allah SWT. Dan, jika kita mati maka tidak ada satupun sekecil apapun yang bisa kita bawa dari dunia ini. Keluarga kita, harta kekayaan kita, semua akan ditinggalkan. Yang kita bawa tidak lain hanyalah catatan amal perbuatan kita.”



Status ketiga, Agus kemudian mengunggah soal kematian kembali. Ciutan ini dua hari jelang kecelakaan maut di tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat.



“Banyak orang yang telah meninggal, tapi nama baik mereka akan tetap kekal. dan banyak orang yang masih hidup, tapi seakan mereka orang mati yang tak berguna -Imam Syafi’i-“




 Sejumlah rekan yang mengenal sosok Agus Waluyo menengarai, status yang diunggah sebagai bagian firasat.



Ucapan belasungkawa dan doa-doa pun dipanjatkan oleh rekan-rekan yang mengenal beliau.



Agus dimakamkan di Ciamis, Jawa Barat pada Minggu (11/2/2018).



Ia meninggalkan satu orang istri, dua orang anak perempuan, dan satu orang anak laki-laki.



Agus Waluyo merupakan laki-laki satu-satunya dari total 27 korban tewas kecelakaan bus di tanjakan Emen, Subang, Sabtu (10/2/2018).



Agus Waluyo hendak mengunjungi ibunya di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat.





Kisah korban selamat yang sempat pinjam hp ke warga tapi dicuekin



Terpisah, Karmila, perempuan berusia 44 tahun masih mengingat peristiwa yang merenggut sejumlah karibnya tersebut.



Menurutnya, saat kecelakaan terjadi kabin bus menjadi gelap dan penuh debu. Karmila terus melangkah menuju kaca depan bus yang sudah pecah.



Ia menginjakan kakinya sedikit demi sedikit di atas tepian kursi penumpang bus yang sudah terbalik 90 derajat.



Dalam perjalanannya menuju pintu keluar, Mila sempat mendengar suara rintihan kawan-kawannya yang berada di bawah kursi tersebut.



Sambil coba menenangkan diri, Mila berusaha agar kakinya tidak menginjak tubuh tetangganya yang tengah kesakitan itu.



“Tolong, ya Allah. Tolongin, saya,” rintih Mila menirukan suara teman-temannya yang menjadi korban laka maut bus pariwisata yang tengah menuju Ciater, Jawa Barat sore itu.



Ibu empat anak itu masih ingat ada beling di bawah kakinya setelah berhasil keluar dari bus maut.





Tapi ia tidak ingat mengapa kakinya tidak terluka sedikit pun walaupun menginjak pecahan kaca bus itu.



Ia juga masih ingat betapa pegal lengan dan pergelangan tangannya usai mencengkram besi tirai sebelum bus yang ditumpanginya terguling di tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat.



“Saya sudah tahu bus oleng ke kanan dan ke kiri. Waktu itu saya berdiri dan bisa melihat dengan jelas ada sepeda motor yang menyalip. Saya cuma bisa fokus dan mencari pegangan,” ungkap Mola mengingat apa yang menimpa dirinya.



Sisi kiri atas bus itu membentur tanah dua kali.



Kali pertama membuat kaca di bus itu pecah, dan kali kedua membuat sebagian penumpang di bagian kursi penumpang sebelah kiri terlempar keluar.



Ia takut bus itu akan meledak.



Hanya maut dan keluarganya yang ada dalam pikirannya, namun Mila melawannya.



Ia bertekad harus hidup.



“Mati. Mati. Tapi saya ingat keluarga, anak-anak, saya harus tetap hidup. Pokoknya, gimana caranya saya bisa hidup. Saya cuma takut kalau meledak,” ungkap Mila.



Setelah berhasil mempertahankan hidupnya dan keluar dari bus, Mila kemudian mencari pertolongan.



Ia sempat kesal dan menangis karena warga yang ada tak mau meminjamkan ponsel kepadanya.



Dengan alasan tidak ada pulsa, mereka hanya merekam kejadian itu dengan ponselnya.



Ia bahkan sempat mengingat ponsel dalam tasnya yang masih berada di dalam bus ketika itu.



“Kesel banget. Mau minjem hp buat nelpon dia (menunjuk suami yang ada di sampingnya-red), mereka cuma nge-shoot nge-shoot aja. Bilang nggak ada pulsa,” ungkap Mila.



Setelah beberapa saat, lalu lintas di tanjakan Emen itu menjadi macet.



Namun tidak ada seorang pun yang berani menolongnya. Petugas kepolisian lalu datang dan membawa Mila ke poliklinik di dekat lokasi kejadian.



Sementara korban lainnya dibawa ke RSUD Subang. Karena tidak ada luka serius di tubuhnya, proses pengobatannya tidak berlangsung lama.



Namun ia merasa sangat kelelahan karena petugas kepolisian yang membawanya terus menerus menanyainya.



“Capek banget rasanya, karena saya jadi salah satu saksi yang ditanya terus-terusan sama polisi,” kata Mila.



Di hari ketiga setelah kejadian, seluruh tubuh Mila baru terasa sakit.



Seluruh badannya baru saja selesai diurut.



Kakinya yang sempat bengkak di hari pertama kini sudah lebih baik.



Namun ia mengaku masih ingin diurut lagi.(Tribunnews.com)

‘);
FB.XFBML.parse( );
});
//]]>

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *